Selasa, 08 Februari 2011

Australia, Stephen Musca
Belgium, Bram Demeyere
Bolivia, Sergio Bascope
Bosnia & Herzegovina, Voljen Gubeljic
Brazil, Marlon de Gregori
Canada, Dax Gramuglia
China, Wang Zichao
Colombia, Juan Felipe Quiroz Vargas
Costa Rica, Juan Pablo Brenes
Cuba, Yoan Gonzalez
Czech Republic, Jan Hájek
Denmark, Kristian Greiff
England, Vaughan Bailey
Germany, Marco Beer
Gibraltar, Bogdan Brasoveanu
Greece, Apostolos Ntokos
Hawaii, Kash Kiefer
Hong Kong, Zhang Zhaoyu
India, Ahran Chaudhary
Indonesia, Obert Sharon Christian
Iran, Mohammad Mehdi Rokni
Japan, Yudai Kawano
Korea, Park Hyun Woo
Latvia, Janis Verners
Lebanon, Mrad Mouawad
Macau, Xie PengJu
Malaysia, Tim Ang Sau Fong
Malta, Tyrone Laudi
Mexico, Hugo Rodriguez Rubio
Mongolia, Dulguun Gantumur
Nepal, Kanij Koirala
Netherlands, Joshua Krishnadath
New Zealand, Kristian Bray
Nicaragua, William Rodriguez
Pakistan, Muhammad Abrar Khan
Panama, Enrique Lukowsky
Philippines, Carlo Morris Galang
Poland, Mariusz Dobosz
Puerto Rico, Joel Rod
Serbia, Milovan Durovic
Singapore, Jovin Koh
Slovak, Republic Peter Meňky
South Africa, Jacques Fagan
Spain, Antonio Million
Sri Lanka, Leen Alexander
Sweden, Calle Eriksson
Taiwan, Jerry Chaung
Tanzania, Mario Mohammed Mpingirwa
Thailand, Nathakorm Srivichai
Turkey, Yahya Demir
USA, Daniel Guerra
Venezuela, Henry Bolivar
Vietnam, Hoàng Gia Ngọc

Jumat, 31 Desember 2010

Judul : Desert Children
Penulis : Waris Dirie dan Corinna Milborn
Penerbit: esensi
Cetak : 2008
Tebal : 295 Halaman
Nawal el-Sadawi pernah menuliskan pemberontakan perempuan melalui novel-novel yang sangat mengejutkan di negerinya. Karena sistem negara yang memang menyingkirkan keberadaan perempuan. Lalu perlakukan terhadap perempuan juga ditulisnya amat menarik. Sebagai seorang dokter, Nawal el-Sadawi sangat tempat menulis soal khitan perempuan.
Pemberontakan dan gerakan itulah yang dilanjutkan Waris Dirie. Seorang model kelas dunia dan Duta Besar Istimewa PBB yang memiliki jiwa pemberani. Lahir dari suku gurun di Somalia, Waris menyentak dunia ala Nawal el-Sadawi. Ia menulis bersama Corinna Milborn, seorang jurnalis.
Keduanya mengangkat tema Mutual Genital Perempuan (MGP) di Eropa, Afrika dan dunia. Beragam kasus yang mereka temukan sungguh mencengangkan. Banyak perempuan yang merasakan rasa pahit terhadap perlakuan MGP. Berbagai kasus ditemukan. Trauma tidak terelakkan dari perlakuan tersebut.

Inilah yang menjadi pilihan gerakan. Hal kecil yang sesungguhnya perlu perhatian besar. Hasilnya memang kelihatan, beberapa negara mulai membuat peraturan tertulis, tidak ada lagi MGP.
Namun demikian, persoalan belum selesai. Ada peran agama yang sangat besar dalam membudayakan MGP. Termasuk agama Islam. Padahal, perlakuan ini menghancurkan kenikmatan hidup perempuan. Tetapi Waris tampaknya tidak melihat dari sisi pandangan agama, yang menjelaskan tentang tindakan MGP dalam agama juga merupakan pertahanan dari perlakuan seks dan peningktan norma. Sisi ini tidak kelihatan sama sekali dalam novel. Karena memang perjuangan perempuan yang diusungnya sangat kenal dari sisi kebebasan dan peranan perempuan yang bangkit dari ketertindasan keluarga, negara dan agama.
Demikianlah akhirnya, jaringan Waris dalam pergerakan perempuan khususnya membebaskan dari perlakuan MGP berkembang. Seiring dengan perjuangan HAM, kebebasan perempuan akhirnya terus menemukan titik terang. Tiada henti, setiap kasus baru muncul dan penelitian selalu dilakuka. Pengakuan-pengakuan menarik dari korban, sepertinya memperkuat hati Waris untuk berjuang. Namun, perjuangan ini harus berhadapan dengan budaya agama yang masih ortodok memahami. Agaknya perlu titik temu yang harmonis hendaknya. Sebab, pandangan MGP secara mutakhir memang terasa sangat rasional demi keselamatan perempuan. [Abdullah Khusairi]

Minggu, 24 Oktober 2010

paradigma pendidikan islam

Pendahuluan

Kemunduran drastis yang telah menimpa kaum Muslimin dewasa ini sebagaimana dikemukakan para cendikiawan Muslim tidak diragukan lagi bersumber dari kegagalan mereka dalam memahami dan menerapkan metode intelektual1 yang dikehendaki Islam, terutama dalam sistem pendidikan mereka.2 Keadaan ini akan membawa dampak yang sangat buruk bagi kaum Muslimin, sebagaimana yang dialaminya dewasa ini. Kaum Muslimin menjadi kaum yang terbelakang peradabannya, terbelakang pengetahuan-tekno- loginya, terbelakang ekonominya, menjadi mainan empuk musuhnya, dipecah belah, diadu domba, dikeluarkan dari warisan dan tradisi pendahulunya dan mereka akhirnya menjadi manusia-manusia lemah yang siap didekte dan diperintah orang lain. Karena kegagalan inilah kaum Muslimin telah berusaha mengadopsi metode dan sistem pendidikan yang lain, yang bukan bersumber dari akar sejarah dan tradisi generasi Islam terdahulu, bahkan bertentangan dengan yang dikehendaki Islam. Diterapkannya sistem ini mengakibatkan kaum Muslimin bertambah lemah dalam kelemahannya, bertambah bingung dalam kebingu-ngannya dan bertambah mundur dalam kemundurannya. Eksperimen-eksperiman para cendikiawan Muslim yang telah gagal ini sepatutnya tidak diulangi lagi oleh generasi berikutnya, karena akan menambah parahnya penderitaan dan kesengsaraan ummat. Maka itulah sebabnya, jika kaum Muslimin yang sedang mundur ini hendak dibangkitkan kembali menjadi kaum yang memimpin peradaban dunia, hal pertama yang harus dilakukan adalah merombak sistem pendidikan yang diterapkan selama ini kemudian dibangun dan dikembangkan sebuah bentuk sistem dan metode pendidikan yang akan mengangkat harkat dan martabat mereka sebagaimana yang telah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu yang telah berhasil dengan gemilangnya memahami dan menerapkan sistem dan metode pembinaan manusia unggul yang diajarkan Allah SWT melalui bimbingan Rasulullah SAW. Demikian pula dengan sistem generasi sesudahnya yang telah melahirkan peradaban baru dalam sejarah kemanusia dan menjadi mercusuar dunia masa itu. Sejarah kegemilangan Islam terdahulu dapat dicapai karena generasi-generasi Islam benar-benar memahami sistem dan metode pembinaan yang akan mengantarkan mereka menuju kemenangan.

Maka untuk mengetahui lebih jauh kegagalan ummah dalam memahami dan menerapkan metode intelektualnya, khususnya dalam sistem pendidikan perlu diadakan studi kritis terhadap sistem yang mereka terapkan dewasa ini. Mengadakan studi terhadap sistem dan metode pendidikan secara lurus dan jujur, mau tidak mau harus pula diadakan kritik terhadap segala bentuk kelemahan dan kegagalannya, baik secara teori atapun praktiknya, disamping menunjukkan di mana letak keutamaannya agar dapat dibangun
1
Untuk menghindari kerancuan, terlebih dahulu adalah sangat penting untuk memahami pengertianmetode
intelektual dalam kontek ini. Secara harfiahnya, metode-metodologi diartikan sebagai cara/tatacara/kaedah yang akan

digunakan dalam memahami atau menerapkan sesuatu pemikiran, yang dalam bahasa Arabnya sinonim denganmanhaj yang biasanya diartikan sebagai thariqon wadhihan-Sabilan, jalan (cara) yang terang-benderang atau kaedah. Intelektual, dari bahasa Inggris (Intellectual) adalah segala bentuk yang berkaitan dengan kecendikiaan, pemikiran dan sejenisnya, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah pengertian Intelektual sebagai kata sifat, bukan sebagai kata benda yang menujuk pada orang/cendikiawan. Maka yang dimaksud dengan metode-metodologi intelektual di sini adalah tata cara/kaedah yang digunakan dalam memahami dan menerapkan sesuatu bentuk pemikiran, ajaran, nilai-nilai, amalan-amalan dan segala yang berkaitan dengan kecendikiaan.
2
Yang terkemuka diantara mereka adalah Ismail R. Faruqi dalam Isalamization of Knowledge dan lain-lainnya

PARADIGMA PENDIDIKAN JOHN LOCKE DAN ROBERT OWEN

A. Pendahuluan

John Locke dan Robert Owen merupakan salah satu dari begitu banyak tokoh yang sudah memberikan pemikirannya tentang perkembangan pendidikan di dunia. Kedua tokoh ini masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda dalam pendidikan dan perkembangan individunya.

John Locke lahir pada tahun 1632 di Wrington Inggris,Dibesarkan oleh ayah yang seorang pengacara yang bekerja sebagai juru tulis hakim di Somersetshire dan menjadi kapten angkatan angkatan bersenjata di Long Parliament selama pemerintahan Raja Charles I. Pada Tahun 1646, pada waktu John Locke berusia 14 tahun dia diterima di Westminster School, dimana selama 6 tahun ia mencurahkan perhatiannnya pada pelajaran bahasa latin dan Yunani, disamping pelajaran-pelajaran lainnya yang diberikan disekolah-sekolah menengah.

Pada tahun 1652 ia diterima di Christ Church College, Universitas Oxford, disini ia mempelajari retorika bahasa, filasafat moral, ilmu ukur, fisika, bahasa Latin, Arab, dan Yunani. Ia mendapatkan gelas sarjana mudanya pada tahun 1656 dan sarjana penuh pada tahun 1658. Pada Tahun 1660 ia memperoleh beasiswa sebagai mahasiswa senior, selain itu diberikan hak istimewauntuk tetap di universitas tersebut untuk selama-lamanya. Dengan beasiswa tersebut, ia bekerja sebagai pembimbing untuk mata pelajaran retorika, bahasa Yunani dan filasafat.

Pada Tahun 1665 ia menjadi sekretaris misi diplomatic kerajaan Inggris di Brandenburg, dan pada tahun 1666 kembali lagi ke Ingggris dan mempelajari ilmu kedokteran. Kemudian, sejak Locke menyembuhkan salah satu duta inggris, ia mulai bekerja untuk pemerintahan. Dana sejak saat itu perkembangan pandangan-pandangannya terhadap berbagai masalah mulai terangkat dan terpublikasikan.

Robert Owen lahir 1771 di daerah North Wales, ia adalah seoarang anak yang cepat dewasa dan berasal dari keluarga golongan menengah, ayahnya adalah soerang pengusaha besi dam kepala kantor pos, ia selalu menghargai pendapat maupun pribadi anak-anaknya. Tetapi, tetap menjalankan disiplin serta menentang penghukuman badan terhadap anak-anaknya.

Owen mendapatkan pendidikannya di sekolah di kotanya dan meniti karir bisnisnya tetap dikotanya. Sejak ia memiliki pabrik di New Lanark, ia melakukan berbagai perbaikan dalam bidang usahanya dengan mengurangi hari kerja buruh, dan menolak mempekerjakan anak-anak dibawah 10 tahun. Di tempat itulah dia menyadari bahwa kemiskinan sangat terlihat jelas, yang kemudian membuat dia bergerak dengan mengadakan perbaikan rumah-rumah buruh, memperhatikan kesejahteraan keluarga dan anak-anak buruh, Di tempat ini pula Owen mulai memunculkan gagasan-gagasan tentang kesejahteraan buruh,dan pendidikan.

Namun dalam perkembangnnya, Owen sendiri jatuh miskin dikarenakan pemikiran dan tindakannya untuk memulai perkembangan kota tempat pabrik Owen. Hal ini dikarenakan masyarakatnya belum siap untuk memulai konsep yang ditawarkan oleh Owen sehingga dikalahkan oleh mayoritas masayarakat kota tersebut.

B. Pemikiran-pemikiran John Lock dan Robert Owen

Kedua tokoh tersebut sama-sama telah membuat pandangan baru dalam dunia pendidikan, yang tadinya pendidikan masih dilaksanakan dengan kolot, dengan adanya konsep pemikiran mereka ada perkembangan yang sampai saat ini masih relevan untuk diaplikasikan.

Pandangan pendidikan John Locke yang terkenal adalah konsep TABULA RASA atau lembaran kosong, yaitu dimana dianggap bahwa orak adalah sebuah penerima pasif yang memperoleh pengetahuan dari pengalaman dan menyerapnya melalui panca indera berbagai gagasan sederhana dan kemudian digabungkan atau dihubungkan untuk membentuk suatu pemikiran yang berkaitan.

Penerapan tabula rasa oleh John Locke ditunjukkan dalam pandangannya mengenai pembedaan yang jelas antara pendidikan dan perolehan (melalui penggabungan) informasi verbal yang semata-mata hanya untuk diingat dan diulangi. Ia menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan kekuatan badan dan pikiran individu agar ia sukses dalam hidupnya.

Menurut Locke, sasaran pendidikan itu sendiri adalah membentuk akan sehat dalam tubuh yang sehat dan otak yang sehat dalam pikiran. Tubuh dan pikiran anak kecil membutuhkan bimbingan dan disiplin yang ketat untuk mengajarinya agar dapat menahan kesukaran atau ketidakpuasan dan membentuk gabungan antara kebiasaan berpikir secara benar dan tingkah laku yang baik. Setelah anak tersebut besar dan menunjukkan kemampuannya dalam mengendalikan dorongan alamiah serta keinginannya, ia harus diberi kebebasan lebih besar untuk memutuskan segalanya dengan caranya sendiri.

Locke mengatakan bahwa orang tua dan pembimbing harus menjadi contoh, memperlihatkan sifat-sifat kepribadiannya yang prima, seperti misalnya kebaikan, pendidikan yang baik, dan hal-hal lain yang dihormati serta sering ditiru oleh anak-anak. Seorang anak yang mencoba untuk mencontoh hal-hal diatas harus didorong, dipuji, diperbaiki, atau ditegur atau dibimbing jika perlu, tetapi jangan terlalu dibebani oleh kritik-kritik yang berlebihan atau tugas yang tak berguna.

Locke juga menganjurkan agar tidak mengisi kepala anak-anak dengan “sampah” karena mereka tidak akan memikirkan hal tersebut lagi “selama hidupnya”. Pendidikan harus praktis, berguna, berarti, menyenangkan, anak harus dihormati, “diperlakukan seperti orang dewasa”, dibiarkan untuk mengeluarkan pendapatnya, belajar dari pengalaman, dan memperoleh berbagai kemampuan yang akan berguna baginya. Belajar dari pengalaman jauh lebih baik dibandingkan dengan belajar dari buku-buku, tetapi membaca dan pengajaran bahasa juga tidak boleh diabaikan

Menurut Locke, terdapat perbedaan kemampuan diantara anak-anak dalam belajar dan mengembangkan kekuatan jasmani dan rohani, juga dalam hal minat serta pilihan pelajaran dan kegiatan-kegiatan tertentu. Perbedaan individu ini harus diamati dan dihargai. John Locke juga mengkritik berbagai kurikulum-kurikulum sekolah yang selalu berusaha membentuk murid-muridnya untuk menjadi sesuatu untuk karirnya. Dia berpendapat bahwa lebih baik murid-murid itu dibiarkan mencari sendiri apa yang diinginkannya sehingga berbagai pengalaman dapat dia dapatkan sendiri dan dapat dipahami.

Pandangan Robert Owen mengenai pendidikan menjelaskan bahwa tujuan utama pendidikan adalah pengembangan sikap moral. Anak-anak oleh owen diibaratkan sebagai plastic yang mudah dibentuk, berbudi luhur dan cerdas bila mendapat pendidikan yang tepat mulai dari masa kanak-kanak, mereka nantinya akan membentuk kebiasaan-kebiasaan baik dan akan mencegah atau membasmi segala kejahatan sosial serta akan menyempurnakan masyarakat dimana mereka berada.

Owen sangat menegaskan bahwa pendidikan yang tepat akan membentuk sifat manusia tersebut, sehingga dia memberikan masukan bahwa setiap orang, baik miskin atau kaya, harus mendapatkan pendidikan yang baik. Mengenai pendidikan, owen juga memberikan beberapa klasifikasi usia mengenai pola pendidikan. Sebagai contoh, untuk usia kanak-kanak hingga 10 tahun, Owen menekankan untuk memberikan pengalaman dengan binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda lainnya dilingkungan alam mereka. Ia juga menegaskan untuk tidak memberikan buku pada anak-anak usia mereka, karena lebih baik mengahadapi sesuatu secara langsung dari pada lewat buku. Pengalaman hidup anak-anak akan menjadi dasar bagi mereka untuk mempelajari kehidupan nyata

Dalam pembelajarannya, anak-anak juga harus didorong untuk mewujudkan minat mereka dibawah bimbingan guru yang terlatid, mencintai dan menghargai mereka, dan selalu kooperatif dengan anak-anak dalam permainan dan studi. Robert Owen secara tidak langsung juga telah menerapkan atau membuat kurikulum untuk setiap usia, yang juga hampir sama dengan beberapa pandangan pendidikan beberapa tokoh.

Namun Owen memperbaiki yang salah satu adalah, dalam pendidikan tidak boleh memaksakan penghafalan tentang suatu buku atau menolak teori untuk menyuruh murid lebih tua untuk mengajari yang muda, menolak sekolah sebagai tempat doktrinasi dan mensteriotipkan guru hanya kepada kaum perempuan saja. Selain itu ia juga menganjurkan kebebasan berpendapat maupun disiplin diri secara demokratis dan spontanitas yang dianggapnya sebagai cara belajar paling baik bagi anak-anak.

C. Kesimpulan Perbandingan Pandangan John Locke dan Robert Owen

Dari apa yang ditulis diatas, didapatkan beberapa pandangan-pandangan mengenai pendidikan oleh John Locke dan Robert Owen, dan dapat diambil beberapa kesimpulan yatiu:

1. Pada dasarnya pandangan mereka tentang pendidikan relative sama, namun John dalam hal ini hanya lebih menekankan bahwa pendidikan berasal dari pengalaman hidup dalam hidup manusia. Sedangkan Robert Owen lebih menegaskan bahwa pendidikan harus diambil dalam bangku sekolah namun sudah ada kurikulum dengan jelas untuk setiap tingkatan usia.
2. Pandangan John Locke mengenai sekolah dengan Robert Owen sudah bertolak belakang. Karena John Locke lebih setuju untuk membiarkan anak memilih apa yang diinginkan tanpa harus memberikan lebih dalam, sedangkan Robert Owen menegaskan bahwa anak diberikan bekal pengetahuan di bangku sekolah untuk masa depan.
3. Robert Owen memandang bahwa pendidikan yang tepat adalah diberikan oleh orang-orang yang terlatih, namun John Locke tidak sepakat dengan “konsep sekolah”.






DAFTAR PUSTAKA

Freire, Paolo, dan Ira Shor.2001. Menjadi Guru Merdeka: Petikan Pengalaman. LKIS: Yogyakarta

H.A.R. Tilaar, Prof, Dr, M.Sc.Ed.2004. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Rineka Cipta: Jakarta

Smith, Samuel, Ph.D, 1986. Gagasan-Gagasan Besar Tokoh-Tokoh dalam Bidang Pendidikan. Bumi Aksara: